Rabu, 02 Juni 2010

SDN Bendungan Hilir 12, Sekolah Berbudaya dan Peduli Lingkungan

SEKILAS, bila melihat bangunan fisik Sekolah Dasar Negeri (SDN) 12 Bendungan Hilir, Sudirman, Jakarta Pusat; akan tampak biasa saja. Bangunan dua tingkat ini sama seperti bangunan khas sekolah lainnya di Jakarta yang dibuat meninggi sebagai efisiensi lahan yang semakin terbatas.


Baru ketika memandangi areal seluas 2.600 meter persegi itu akan terlihat jika SDN ini mempunyai nilai lebih. Banyak tanaman dan pepohonan yang ditanam di sekeliling bangunan. Tepat berhadapan dengan ruang kepala sekolah ada taman kecil dengan beraneka tanaman berikut tempat untuk duduk bersantai di bawah sebuah pohon rindang.
Konsep lingkungan inilah yang kemudian mengantarkan SDN 12 Pagi Benhil menjadi sekolah dasar pertama di Jakarta yang mendapatkan Penghargaan Adi Wiyata. Sebuah penghargaan untuk sekolah yang peduli dan berwawasan lingkungan.
Program ini adalah salah satu program Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Menurut Kepala Sekolah SDN 12 Pagi Benhil, Muryati, ada beberapa proses yang harus dilalui untuk mendapatkan predikat tersebut. Pada tahun pertama baru disebut calon model Adi Wiyata kemudian tahun kedua menjadi Adi Wiyata jika sudah empat tahun disebut Adi Wiyata Mandiri atau Kencana. Tahun lalu baru model, tahun ini sudah Adi Wiyata 100 persen, ungkapnya
Menurut Muryati, ada beberapa penilaian layak-tidaknya sebuah sekolah bisa memperoleh penghargaan, pertama, dilihat dari kondisi fisik bangunan sebesar 10 persen kemudian 40 persen dari kebijakan kepala sekolah, visi, misi, tata tertib, dan komitmen terhadap lingkungan dengan pembelajaran.
Sebesar 30 persen kurikulum pembelajaran harus terintegrasi dengan lingkungan dan memelihara lingkungan, kemudian 20 persen partisipasi dan aksi lingkungan keluar, kata Muryati menambahkan.
Apa yang tampak pada SDN 12 Benhil saat ini sangat kontras dengan lima tahun yang lalu. Tahun 2004 saat pertama kali datang, di sini tidak ada yang istimewa. Murid-murid sedikit malahan bangunan sudah rusak, ujar Muryati.
Untuk memerbaiki keadaan sekolah yang rusak, sekolah ini mendapat bantuan dari perusahaan-perusahaan sekitar yang peduli pada pendidikan. Setelah semakin baik dari segi penampilan fisik baru pada tahun 2006 sekolah ini mendapat perbaikan total dari pemerintah.
Selain melakukan penghijauan lingkungan, sekolah ini juga menerapkan edukasi berwawasan lingkungan pada murid-muridnya, diantaranya membuat kompos, daur ulang sampah ataupun kegiatan-kegiatan lain di luar sekolah. Guru-guru di sini berkeyakinan pendidikan tidak hanya melulu di dalam kelas.
Alhamdulillah beberapa kompos sudah bisa dipakai untuk pupuk tanaman di sekolah ini, jelas kepala sekolah yang selalu mengenakan jilbab ini.
Hal lain yang ditanamkan sejak dini pada semua anak didik adalah tidak membuang sampah sembarangan. Alhamdulillah saat ini murid-murid bisa menjadi polisi bagi teman lainnya. Artinya, kalau ada yang membuang sampah sembarangan akan ditegur oleh teman lainnya, tuturnya.
Pada lingkup kecil kebiasaan ini bisa membuat lingkungan sekolah bersih dari sampah, sedangkan pada lingkup yang lebih besar bisa tercipta sebuah generasi yang peka terhadap lingkungan.
Kalau sifat baik mudah-mudahan pembelajaran bisa menjadi baik, inilah hal yang diyakini Muryati.(pk-21)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

sdnbenhil12ssn at Yahoo! Groups